Ya’qub Dan Yusuf Menyalahkan Setan

Ya’qub Dan Yusuf Menyalahkan Setan

Iblis biang keladi, sumber masalah di dunia. Karenanya, Adam melanggar larangan Alloh untuk selanjutnya diusir dari aljannah, suami istri bercerai, perzinahan marak, perjudian kokoh tak terusik dan perbuatan syirik merajalela yang akhirnya mengantarkan manusia ke neraka, itu semua tidak lain karena kepiawaian setan dalam menggoda anak manusia.

Jerat tipu dayanya rapi, dikemas dengan apik sehingga kebatilan diminati, alhaq ditakuti untuk didekati. Maka setiap perbuatan maksiat, tuduhan harus ditujukan lebih awal kepadanya bukan kepada si pelaku maksiat yang terjerat rayuan iblis karena ia hanyalah korban.

Tidak bijak manakala kita sibuk mengingkit-ngungkit kesalahan korban sementara sumber biang keladi luput dari perhatian kita. Demikianlah Ya’qub dan Yusuf memberi teladan kepada kita sehingga sudah sepantasnya kita menirunya :

أولئِكَ الَّذِيْنَ هَدَى الله فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِه

Mereka Itulah (para nabi) orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. [al an’am : 90]

Yusuf yang dibenci saudaranya, di saat bermimpi melihat 11 bintang, 1 matahari dan 1 rembulan bersujud kepadanya (yang artinya suatu saat 11 saudaranya dan kedua orang tuanya akan benar-benar bersujud kepada Yusuf), lalu mimpi itu disampaikan kepada ayahandanya. Demi mendengar penuturan puteranya maka Ya’qub menilai hal itu bila diketahui oleh saudara-saudaranya akan menambah kebencian mereka terhadap Yusuf sehingga Ya’qub berpesan agar jangan sampai mimpi itu dituturkan kepada mereka sambil mengingatkan bahwa meski saudara-saudaranya memusuhinya akan tetapi pada hakekatnya permusuhan itu hanya pantas ditujukan kepada setan :

قاَلَ ياَ بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُءْياَكَ عَلَى إخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْداً إنَّ الشَّيْطاَنَ للإِنْساَنِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” [yusuf : 5]

Rupanya pelajaran yang berharga ini tertanam pada lubuk hati Yusuf sehingga ketika Yusuf sudah memiliki kedudukan tinggi di Mesir, semua saudaranya bersimpuh di hadapannya demikian juga orang tuanya dalam sebuah pertemuan yang mengharukan setelah berpisah selama 30 tahun, disitulah Yusuf menyampaikan kepada orang tuanya bahwa perpisahan yang begitu lama antar mereka adalah disebabkan oleh setan :

وَرَفَعَ أبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهُ سُجَّداً وَقاَلَ يأبَتِ هذَا تَأْوِيْلُ رُءْياَيَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهاَ رَبِّي حَقّاً وَقَدْ أحْسَنَ بِي إذْ أخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجاَءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِى وَبَيْنَ إخْوَتِي إنَّ رَبِّي لَطِيْفٌ لِماَ يَشَاءُ إنَّهُ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku Inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. dan Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaKu, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. [yusuf : 100]

Syaikh Sholih Almunajjid berkata : kata-kata “Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaKu, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku “ Yusuf tidak mengatakan dikeluarkan dari sumur, demi menjaga perasaan saudara-asaudaranya karena merekalah yang melempar Yusuf ke dalam sumur. Yusuf sengaja mencari redaksi lain untuk menghindari penyebutan sumur.

Demikian juga Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi tidak jauh berbeda menerangkan maksud ayat di atas. Dan yang penting untuk diperhatikan bahwa Yusuf tidak mempermasalahkan sikap saudara-saudaranya terhadap dirinya akan tetapi semuanya dialamatkan kepada setan.

Demikianlah seharusnya sikap kita, memberi penilaian perbuatan maksiat bukan ditujukan kepada pelaku akan tetapi kepada siapa sumber biang keladi. Bukankah asap ada karena ada api ?


Tantangan Alloh

Tantangan Alloh

ذَالِكَ الْكِتاَبُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa [albaqoroh : 2]

Ayat ini menerangkan bahwa seseorang bisa mencapai derajat taqwa melalui hidayah dan hidayah itu sumbernya ada pada alkitab (alquran), akan tetapi hal itu hanya terwujud manakala dia memiliki sikap yang benar kepada alquran, yaitu sikap yakin dan tidak ragu-ragu terhadap apa saja yang Alloh firmankan dalam alquran.

Bila dia masih meragukan isi alquran maka mustahil dia memperoleh hidayah, hal itu berlanjut pada kegagalannya dalam meraih derajat taqwa.

Pada kenyataannya orang yang masih meragukan alquran, masih banyak kita jumpai, dulu hingga sekarang. Yang anehnya justru itu banyak berasal dari orang-orang yang mengaku bersyahadat laa ilaaha illalloh. Bila penolakan itu berasal dari orang kafir itu satu hal yang dinilai lumrah.

Yang lebih mencengangkan adalah manakala sikap ragu terhadap kitabulloh diiringi dengan upaya untuk menandingi kitabulloh itu sendiri. Apakah ada ? Jawabannya ada ! Karena Alloh subhaanahu Wata’ala menantang kepada orang-orang yang meragukan alquran untuk membuat proyek pembuatan kitab yang bisa menandingi alquran, dan itu Alloh ulangi sebanyak lima kali dalam alquran. Dengan nada indah itu Alloh tampilkan tantangannya dengan empat bentuk kalimat :

1. Alloh menantang siapa saja yang mampu membuat kitab yang setara kwalitasnya dengan alquran dan taurot :

قُلْ فَأْتُوْا بِكِتاَبٍ مِنْ عِنْدِ الله هُوَ أهْدَى مِنْهُماَ أتَّبِعْهُ إنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

Katakanlah: “Datangkanlah olehmu sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan Al Quran) niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar”.[alqoshosh : 49]

2. Seandainya tidak berhasil, manusia boleh minta bantuan kepada jin, cukup membuat satu kitab saja bukan dua yaitu setara mutunya dengan alquran

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أنْ يَأْتُوْا بِمِثْلِ هذَا الْقُرْانِ لاَ يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كاَنَ بَعْضُهُمْ لِبََعْضٍ ظَهِيْراً

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.[al isro’ : 88]
3. Jika tidak berhasil maka dipersilahkan untuk menurunkan proyeknya dengan membuat sepuluh surat saja (bukan satu kitab yang jumlahnya 114 surat)

أمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرِياَتٍ وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُوْنِ الله إنْ كُنْتُمْ صاَدِقِيْنَ

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. [hud : 13]

4. Kalau juga belum berhasil maka cukup membuat satu surat saja yang bisa menandingi satu surat yang paling pendek dalam alquran dan masih diperkenankan untuk meminta bantuan kepada pihak lain selain Alloh.

أمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُوْنِ الله إنْ كُنْتُمْ صاَدِقِيْنَ

Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), Maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” [yunus : 38]

وَإنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْناَ عَلَى عَبْدِناَ فَاْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوْا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُوْنِ الله إنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فاَتَّقُوْا النَّارَ الَّتِي وَقُوْدُهاَ النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أعِدَّتْ لِلْكاَفِرِيْنَ

23. Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
24. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. [albaqoroh : 23-24]

Betapa beraninya bangsa Indonesia ketika mengatakan “ pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum, pancasila adalah sakti, dan kata-kata kufur lainnya “ Sehingga dengan slogan ini maka tertutup pintu penegakan syariat, terbelenggu keinginan kita untuk melaksanakan islam secara kaffah.

Doktrin seperti ini terus ditanamkan di bangku-bangku sekolah, celakanya para kyai dan itu tidak sedikit, hidupnya dihabiskan untuk membela mati-matian pancasila. Jangan heran kalau dari lesan mereka keluar kata-kata “ pancasila adalah harga mati, pancasila sudah final, …… “

Wal iyaadzubillah, kelak ia akan mempertanggungjawabkan perkataannya di hadapan Alloh.

Lain halnya dengan para penguasa yang lantang mengatakan : bagi siapa yang tidak tunduk kepada pancasila maka dipersilahkan keluar dari bumi Indonesia ! Seolah begitu gagah saat mengeluarkan kata-kata buruk itu, padahal begitu mudah kata-kata murah ini dijawab “ bagi yang tidak mengakui hukum Alloh (alquran dan assunnah) maka silahkan keluar dari bumi Alloh !!!


Wahai Pejabat Bermasalah, Mundurlah !

Wahai Pejabat Bermasalah, Mundurlah !

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ شَكَا أَهْلُ الْكُوفَةِ سَعْدًا إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَعَزَلَهُ وَاسْتَعْمَلَ عَلَيْهِمْ عَمَّارًا فَشَكَوْا حَتَّى ذَكَرُوا أَنَّهُ لَا يُحْسِنُ يُصَلِّي فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ فَقَالَ يَا أَبَا إِسْحَاقَ إِنَّ هَؤُلَاءِ يَزْعُمُونَ أَنَّكَ لَا تُحْسِنُ تُصَلِّي قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ أَمَّا أَنَا وَاللَّهِ فَإِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي بِهِمْ صَلَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَخْرِمُ عَنْهَا أُصَلِّي صَلَاةَ الْعِشَاءِ فَأَرْكُدُ فِي الْأُولَيَيْنِ وَأُخِفُّ فِي الْأُخْرَيَيْنِ قَالَ ذَاكَ الظَّنُّ بِكَ يَا أَبَا إِسْحَاقَ فَأَرْسَلَ مَعَهُ رَجُلًا أَوْ رِجَالًا إِلَى الْكُوفَةِ فَسَأَلَ عَنْهُ أَهْلَ الْكُوفَةِ وَلَمْ يَدَعْ مَسْجِدًا إِلَّا سَأَلَ عَنْهُ وَيُثْنُونَ مَعْرُوفًا حَتَّى دَخَلَ مَسْجِدًا لِبَنِي عَبْسٍ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْهُمْ يُقَالُ لَهُ أُسَامَةُ بْنُ قَتَادَةَ يُكْنَى أَبَا سَعْدَةَ قَالَ أَمَّا إِذْ نَشَدْتَنَا فَإِنَّ سَعْدًا كَانَ لَا يَسِيرُ بِالسَّرِيَّةِ وَلَا يَقْسِمُ بِالسَّوِيَّةِ وَلَا يَعْدِلُ فِي الْقَضِيَّةِ قَالَ سَعْدٌ أَمَا وَاللَّهِ لَأَدْعُوَنَّ بِثَلَاثٍ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ عَبْدُكَ هَذَا كَاذِبًا قَامَ رِيَاءً وَسُمْعَةً فَأَطِلْ عُمْرَهُ وَأَطِلْ فَقْرَهُ وَعَرِّضْهُ بِالْفِتَنِ وَكَانَ بَعْدُ إِذَا سُئِلَ يَقُولُ شَيْخٌ كَبِيرٌ مَفْتُونٌ أَصَابَتْنِي دَعْوَةُ سَعْدٍ قَالَ عَبْدُ الْمَلِكِ فَأَنَا رَأَيْتُهُ بَعْدُ قَدْ سَقَطَ حَاجِبَاهُ عَلَى عَيْنَيْهِ مِنْ الْكِبَرِ وَإِنَّهُ لَيَتَعَرَّضُ لِلْجَوَارِي فِي الطُّرُقِ يَغْمِزُهُنَّ

Dari Jabir bin Samrah berkata, “Penduduk Kufah mengadukan Sa’d (bin Abu Waqash) kepada ‘Umar. Maka ‘Umar menggantinya dengan ‘Ammar. Mereka mengadukan Sa’d karena dianggap tidak baik dalam shalatnya. Maka Sa’d dikirim kepada ‘Umar dan ditanya, “Wahai Abu Ishaq, penduduk Kufah menganggap kamu tidak baik dalam shalat? ” Abu Ishaq menjawab, “Demi Allah, aku memimpin shalat mereka sebagaimana shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidaklah aku mengurangi sedikitpun dalam melaksanakan shalat ‘Isya bersama mereka. Aku memanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama dan aku pendekkan pada dua rakaat yang akhir. ” ‘Umar berkata, “wahai Abu Ishaq, kami juga menganggap begitu terhadapmu. ” Kemudian ‘Umar mengutus seorang atau beberapa orang bersama Sa’d ke Kufah. Orang itu kemudian bertanya kepada para penduduk tentang Sa’d, tidak ada satupun masjid yang dikunjungi tanpa menanyakan tentang Sa’d, mereka semua mengagumi Sa’d dan mengenalnya dengan baik. Hingga akhirnya sampai ke sebuah masjid milik bani ‘Abs, lalu salah seorang dari mereka yang bernama Usamah bin Qatadah dengan nama panggilan Abu Sa’dah berkata, “Jika kalian minta pendapat kami, maka kami katakan bahwa Sa’d adalah seorang yang tidak memudahkan pasukan, bila membagi tidak sama dan tidak adil dalam mengambil keputusan. ” Maka Sa’d berkata, “Demi Allah, sungguh aku akan berdo’a dengan tiga do’a; Ya Allah jika dia, hambamu ini, berdusta, dan mengatakan ini dengan maksud riya’ atau sum’ah, maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kefakirannya dan campakkanlah dia dengan berbagai fitnah. ” Setelah beberapa masa kemudian, orang tersebut bila ditanya mengapa keadaannya jadi sengsara begitu, maka ia menjawab, “Aku orang tua renta yang terkena fitnah akibat do’anya Sa’d. ” ‘Abdul Malik berkata, “Aku sendiri melihat kedua alisnya telah panjang ke bawah menutupi kedua matanya, dan sungguh dia tersia-siakan saat berada di jalan-jalan. [HR Bukhori Muslim]

Di Indonesia, mencari orang yang berambisi mendapat kedudukan sangatlah mudah. Di saat mereka sudah mendapatkan cita-citanya, kitapun akan mudah mencari di antara mereka yang akhirnya dituntut mundur. Kursi yang begitu empuk menyebabkan mereka enggan meninggalkannya kendati tuntutan mundur begitu derasnya.

Kalau kemudian sering kita mendengar di mas media, bahwa demi memudahkan penyelidikan maka yang bersangkutan dinon aktifkan untuk sementara, maka hal ini sebenarnya sudah dilakukan oleh Umar bin Khothob terhadap gubernurnya yaitu Sa’ad bin Abi Waqosh.

Saad Bin Abi Waqosh adalah seorang sahabat yang masuk jajaran al ‘asyroh almubasy syiruuna bil jannah (10 orang yang dijamin pasti masuk aljannah). Iapun termasuk assabiqunal awwalun (orang-orang yang pertama-tama masuk islam). Ia juga dikenal telah mengikuti hampir seluruh peperangan bersama rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Bahkan Kufah yang akhirnya ia menjabat gubernur di sana adalah kota yang ditaklukkan oleh pasukan yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqosh. Dan tidak boleh dilupakan bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam pernah berdoa khusus untuknya dimana beliau memohon kepada Alloh agar setiap doa yang dipanjatkannya senantiasa terkabul sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan :

اللهمَّ اسْتَجِبْ لِسَعْدٍ إذَا دَعاَكَ

Ya Alloh, kabulkan untuk Sa’ad bila dia berdoa kepadaMu [HR Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Alhakim]

Dalam riwayat panjang di atas menceritakan ketika Umar bin Khothob sebagai kholifah mendapatkan pengaduan dari sebagian penduduk Kufah bahwa gubernurnya yaitu Sa’ad bin Abi Waqosh tidak bagus sholatnya. Demi mendengar pengaduan tersebut maka Umar segera mencopot jabatannya dengan digantikan oleh Ammar bin Yasir. Padahal saat itu amirul mukminin belum menerjunkan tim investisigasi, artinya pemecatan yang menimpa sa’ad murni hanya dari laporan semata. Oleh karena itu Ibnu Hajr Al Atsqolani berkata :

جواز عزل الإمام بعض عماله إذا شكى إليه وإن لم يثبت عليه شيئ إذا اقتضت ذالك المصلحة

Diperkenankan bagi pemimpin untuk memecat sebagian pejabatnya bila datang pengaduan kepadanya meskipun belum jelas kebenarannya bila hal itu menimbulkan maslahat.
Demikianlah dengan ketundukan tanpa diiringi sakit hati kepada kholifah, maka Sa’ad menyerahkan jabatannya kepada Ammar. Lalu bagaimana dengan para pejabat sekarang ? Mereka tutup telinga, bahkan tak sungkan untuk mencalonkan diri untuk periode selanjutnya padahal catatan buruknya sudah tersingkap sementara masyarakat sudah muak melihatnya.

Maroji’ : fathul bari, ibnu Hajar Al Atsqolani 2/298


Gelap

Gelap

Gelap adalah suasana malam, kondisi sekeliling tidak nampak. Wajar seandainya sholat sunnah yang paling afdhol adalah qiyamul lail karena luput dari penglihatan manusia. Hanya orang yang bersih dari riya’ sajalah yang istiqomah melaksanakannya.
Kegelapan di malam hari menyebabkan kondisi membuat segan beraktifitas. Santai di rumah adalah sebuah pilihan yang berujung kepada tidur pulas. Tak heran kalau orang munafiq tidak menghadiri sholat isya’ dan shubuh. Di samping malas, toh gelap menyebabkan ketidakhadiran mereka tidak diketahui oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Maka rosululloh shollallohu alaihi wasallam menjanjikan kepada siapa yang melewati masa gelap dengan ibadah berupa pahala yang besar :

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَشَى فِي ظُلْمَةِ لَيْلٍ إِلَى صَلَاةٍ آتَاهُ اللَّهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Ad Darda` dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa berjalan dalam kegelapan malam untuk melaksanakan shalat, maka Allah akan memberikan kepadanya cahaya pada Hari Kiamat.” [HR Addarimi]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشِّرْ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Anas bin Malik, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan kaki dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya sempurna pada hari kiamat.” [HR Ibnu Majah]
Gelap adalah suasana alam kubur. Betapa menyeramkan, suasana gelap tanpa teman. Amal sholih bisa menjadi pendamping setia, sementara sholat jenazah untuk si mayit adalah solusi untuk memecah suasana gelap menjadi terang :

َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه -فِي قِصَّةِ اَلْمَرْأَةِ اَلَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ اَلْمَسْجِدَ- قَالَ: ( فَسَأَلَ عَنْهَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي؟ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا فَقَالَ: دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَزَادَ مُسْلِمٌ, ثُمَّ قَالَ: ( إِنَّ هَذِهِ اَلْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا, وَإِنَّ اَللَّهَ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ
)
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu tentang kisah seorang wanita yang biasa membersihkan masjid. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menanyakan wanita tersebut, lalu mereka menjawab: Ia telah meninggal. Maka beliau bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?” Mereka seakan-akan meremehkan urusannya. Beliau lalu bersabda: “Tunjukkan aku makamnya.” Lalu mereka menunjukkannya, kemudian beliau menyolatkannya. Muttafaq Alaihi. Muslim menambahkan: Kemudian beliau bersabda: “Sungguh kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan atas penghuninya dan sungguh Allah akan meneranginya untuk mereka dengan sholatku atas mereka.”

Gelap suasana akhirat bagi orang-orang munafiq. Mereka memelas kepada orang beriman yang memiliki cahaya, namun hanya pelecehan dan hinaan sebagai jawaban atas permintaan mereka :

يَوْمَ يَقُوْلُ الْمُناَفِقُوْنَ وَالْمُناَفِقَاتُ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا انْظُرُوْنَ نَقْتَبِسْ مِنْ نُوْرِكُمْ قِيْلَ ارْجِعُوْا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوْا نُوْرًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُوْرٍ لَهُ باَبٌ باَطِنُهُ فِيْهِ الرَّحْمَةُ وَظاَهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ يُناَدُوْنَهُمْ ألَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قاَلُوْا بَلَى وَلكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الأماَنِيُّ حَتَّى جاَءَ أمْرُ الله وَغَرَّكُمْ باِلله الغَرُوْرُ

13. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah Kami supaya Kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.
14. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah Kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran Kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang Amat penipu. [alhadid : 13-14]


Apa Solusi Agar Kita Tidak Fanatik ?

Fanatik dan egois (3)

1. Mengembalikan semua permasalahan kepada Alloh dan rosulNya serta para ulama
يأيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا أطِيْعُوْا الله وَأطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَأولِى الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَناَزَعْتُمْ فِي شَيْئٍ فَرُدُّوْهُ غلَى الله وَالرَّسُوْلِ إنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِالله وَالْيَوْمِ الأخِرِ ذَالِكَ خَيْرٌ وَأحْسَنُ تَأْوِيْلاً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [annisa : 59]

Berdasarkan ayat ini berarti ketaatan ditujukan kepada tiga pihak yaitu : Alloh, rosulNya dan ulil amri.

Ulil amri sebagaimana yang dituturkan oleh ibnu Abbas adalah ahlul fiqhi waddin (ahli dalam masalah fiqih dan din) sementara Mujahid, Atho’, Hasan Albasri dan Abu Aliyah menerangkan bahwa yang dimaksud ulil amri adalah para ulama.

2. Menuntut ilmu dari orang lain

Sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Musa yang belajar kepada Khidzir. Musa memiliki kedudukan yang tinggi melebihi kedudukan khidzir. Bagaimana tidak ? Musa seorang nabi dan rosul, ia seorang ulul azmi, kalilmulloh (nabi yang diajak bicara oleh Alloh), memperoleh umat terbanyak setelah rosululloh shollallohu alaihi wasallam, diturunkan padanya kitab taurot dan masih banyak keistimewaan lainnya. Sementara Khidzir oleh para ulama masih diperselisihkan kedudukannya, apakah ia seorang nabi ataukah seorang sholih biasa ? Khidzir jelas tidak memiliki kitab, tidak ada satupun riwayat yang menyebutkan bahwa dirinya memiliki pengikut.

Begitu tingginya kedudukan Musa di hadapan Khidzir, akan tetapi tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu dari Khidzir

3. Siap menerima teguran dari orang lain

Hal ini dicontohkan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam ketika kekurangan dalam rokaatnya pada sebuah sholat, lalu seorang yang dikenal rojulun dzal yadain (si tangan panjang) menegur beliau akan kekurangan beliau maka dengan penuh tawadlu beliau bersabda :

وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي

Akan tetapi aku hanyalah manusia biasa seperti kamu sekalian yang dapat lupa seperti kalian Maka apabila aku lupa ingatkanlah aku [muttafaq alaih]

Sebagai penutup, dibawah ini nasehat para ulama madzhab kepada kita yang sangat bermanfaat agar kita tidak terlalu fanatik terhadap pendapat ulama tertentu :

• Imam Hanafi (Annu’man bin Tsabit)

Jika aku mengatakan suatu perkataan bertentangan dengan kitabulloh dan hadits rosululloh shollallohu alaihi wasallam maka tinggalkanlah perkataanku.

• Imam Malik (Malik bin Anas)

Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia yang bisa salah dan bisa benar. Maka perhatikanlah pendapatku, setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah ambillah, dan setiap yang tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.

• Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris)

Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan sunnah rosululloh shollallohu alaihi wasallam maka berkatalah dengan sunnah rosul dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.

• Imam Hanbali (Ahmad bin Hanbal)

Barangsiapa yang menolak hadits rosululloh shollallohu alaihi wasallam sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran

Maroji’ :
Tafsir alquran al ‘adzim, Abu Fida’ Alhafidz Ibnu Katsir 1/641
Shifat Sholat Nabi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani


Apa Akibat Fanatik ?

Fanatik dan egois (2)

1. Merasa paling benar

وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكاَنُوْا شيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِماَ لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ
31. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
32. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [arum : 31-32]

Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di berkata : mereka orang musyrik menetapkan bahwa kebenaran hanya ada pada diri mereka sementara selain mereka berada di dalam kebatilan. Oleh karena itu ayat ini merupakan peringatan bagi umat islam agar tidak terpecah belah menjadi beberapa golongan lalu masing-masing berta’ashub (fanatik) terhadap apa yang ada pada diri mereka di atas alhaq ataupun batil. Sehingga dengan begitu berarti mereka telah bertasyabuh dengan orang-orang musyrik.

Kebanyakan urusan din, di dalamnya terdapat ijma’ yang sudah disepakati para ulama sementara ukhuwah imaniah telah Alloh ikat dengan sekuat-kuat ikatan. Lalu kenapa akhirnya berubah menjadi perpecahan antara umat islam hanya gara-gara masail khofiyyah (masalah yang masih tersembunyi) atau furu’ yang merupakan bagian dari khilafiah yang kemudian satu dengan lain saling menyesatkan, berusaha saling memperlihatkan perbedaan antar mereka …..

وَقاَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّبِعُوْا سَبِيْلَناَ وَلْنَحْمِلْ خَطاَياَهُمْ وَماَ هُمْ بِحاَمِلِيْنَ مِنْ خَطَاياَهُمْ مِنْ شَيْئٍ إنَّهُمْ لَكاَذِبُوْنَ

Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: “Ikutilah jalan Kami, dan nanti Kami akan memikul dosa-dosamu”, dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta. [al ankabut : 12]

2. Menyalahkan orang lain

وَقاَلَتِ الْيَهُوْدُ لَيْسَتِ النَّصاَرَى عَلَى شَيْئٍ وَقاَلَتِ النَّصاَرَى لَيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى شَيْئٍ وَهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتاَبَ كَذَالِكَ قاَلَ الَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فاَلله يَحْكُمُ بِيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِياَمَةِ فِيْماَ كاَنُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” Padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti Ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. [albaqoroh : 113]

Sebagaimana yang dituturkan oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi bahwa ayat ini berkenaan dengan pertemuan antara Nasrani Najran dan Yahudi di hadapan nabi shollallohu alaihi wasallam. Keduanya berdebat dan saling klaim bahwa aljannah hanya ada pada mereka ….. ketika orang yahudi mengkafirkan kaum nasrani demikian juga sebaliknya maka pengkafiran satu sama lain itu secara haq betul-betul terjadi, artinya orang nasrani statusnya kafir demikian juga kekafiran itu ada pada yahudi (kedua-duanya dipandang kafir oleh Alloh)

3. Menghina kelompok lain

فَتَوَلَّى بِرُكْنِهِ وَقاَلَ ساَحِرٌ أوْ مَجْنُوْنَ

Maka Dia (Fir’aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” [adz dzariyat : 39]

إنَّهُمْ كاَنُوْا إذَا قِيْلَ لَهُمْ لا إله إلاّ الله يَسْتَكْبِرُوْنَ وَيَقُوْلُوْنَ أئِناَّ لَتاَرِكُوْا ءَالِهَتِناَ لِشَاعِرٍ مَجْنُوْنٍ

35. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,
36. Dan mereka berkata: “Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila?” [ash shofat : 35-36]

Syaikh Abu bakar Jabir Aljazairi berkata : mereka orang kafir Quraisy mensifati alquran sebagai kata-kata syair sementara para pembacanya disebut para penyair dan untuk rosululloh shollallohu alaihi wasallam mereka sebut sebagai orang gila. Padahal rosululloh shollallohu alaihi wasallam bukanlah penyair bukan pula orang gila, ia adalah datang dengan alhaq, penentangan yang mereka lakukan adalah atas dasar taqlid dan inad (sikap menentang)

4. Berusaha mencelakakan kelompok lain

وَإذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ أوْ يَقْتُلُوْكَ أوْ يُخْرِجُوْكَ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ الله وَالله خَيْرُ الْماَكِرِيْنَ

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya. [al anfal : 30]

Syaikh Abu Bakar jabir Aljazairi berkata : ayat ini menerangkan tentang sikap orang-orang musyrik terhadap dakwah islam dimana mereka berusaha sekuat-kuatnya untuk memberangus dan melenyapkan dakwah ini.

قاَلَ الْمَلأ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ ياَشُعَيْبُ وَالَّذِيْنَ ءَامَنُوْا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِناَ أوْ لَتَعُوْدَنَّ فِي مِلَّتِناَ قاَلَ أوَلَوْكُناَّ كاَرِهِيْنَ

Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata: “Sesungguhnya Kami akan mengusir kamu Hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota Kami, atau kamu kembali kepada agama kami”. berkata Syu’aib: “Dan Apakah (kamu akan mengusir kami), Kendatipun Kami tidak menyukainya?” [al a’rof : 88]

Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di berkata : demikianlah kebiasaan para thoghut yang dzolim, di saat kalah dalam berargumentasi di hadapan alhaq dengan hujjah dan bukti-bukti yang nyata mereka segera menggunakan kekuatan …

قاَلُوْا إناَّ تَطَيَّرْناَ بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّناَّ عَذَابٌ ألِيْم

Mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami bernasib malang karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya Kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. [yasin : 18]

Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi berkata : sikap orang kafir setelah tegaknya hujah atas mereka adalah menggunakan gertakan dan ancaman.

5. Berani kepada Alloh

وَإذْ قاَلُوْا اللهُمَّ إنْ كاَنَ هذَا هُوَ الْحَقّ مِنْ عِنْدِكَ فَأمْطِرْ عَلَيْناَ حِجاَرَةً مِنَ السَّماَءِ أوِ ائْتِناَ بِعَذَابٍ ألِيْمٍ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, Dialah yang benar dari sisi Engkau, Maka hujanilah Kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada Kami azab yang pedih”. [al anfal : 32]
Sebagaimana dituturkan oleh Syaikh Abu Bakar Aljazairi bahwa yang mengucapkan kata-kata ini adalah Abu Jahal dan Nadhr bin Harits.

Maroji’ :
Aisaruttafasir, Syaikh Abu Bakar Aljazairi
Taisir Alkarim Arrohman Fi Tafsiri Kalaamilmannan, Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di


Siapa Yang Memiliki Sifat Fanatik ?

Fanatik dan egois (1)

Fanatik adalah sifat buruk. Orang yang mengidapnya akan merasa seolah-olah dialah yang paling benar, paling sholih dan yang paling berhak menjadi ahlul jannah. Alhaq sudah dipetakan dan tempatnya tidak lain adalah pada dirinya.

Kalau penyakitnya sudah sedemikian kronis, maka sudah tertutup bagi orang lain untuk memberi masukan pada dirinya. Jangankan seorang nabi, Allohpun berani mereka tentang.
Setidaknya ada tiga kelompok besar yang memiliki sifat fanatik :

Iblis (fanatik terhadap dirinya sendiri

قاَلَ ماَ مَنَعَكَ ألاَّ تَسْجُدَ إذْ أمَرْتُكَ قاَلَ أناَ خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ ناَرٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah”.[al a’rof : 12]

Kafir Qurasy (fanatik terhadap leluhur)

وَإذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا ماَ أنْزَلَ الله قاَلُوْا بَلْ نَتَّبِعُ ماَ وَجَدْناَ عَلَيْهِ ءَابَاءَناَ أوَلَوْكاَنَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوْهُمْ إلَى عَذَابِ السَّعِيْرِ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. mereka menjawab: “(Tidak), tapi Kami (hanya) mengikuti apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? [luqman : 21]

Yahudi (fanatik terhadap bangsanya)

الَّذِيْنَ ءَاتَيْناَهُمُ الْكِتاَبَ يَعْرِفُوْنَهُ كَماَ يَعْرِفُوْنَ أبْناَءَهُمْ وَإنَّ فَرِيْقاً مِنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al kitab (Taurat dan Injil) Mengenal Muhammad seperti mereka Mengenal anak-anaknya sendiri. dan Sesungguhnya sebahagian diantara mereka Menyembunyikan kebenaran, Padahal mereka mengetahui. [albaqoroh : 146]

Nasib ketiga kelompok ini adalah berakhir di neraka termasuk para pengikut setianya. Adakah di antara kita yang berminat ?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.